lingkarhijau

earthday, environment, voluntary, community, nature, culture, local movement

mungkin sudah banyak orang tahu mengenai si hewan lucu ini..
yup kukang adalah hewan yang mengemaskan, wajar saja toh ternyata dia masih satu keturunan dengan yang namanya monyet atau kera. meskipun bisa dibilang satu keturunan, namun kukang adalah primata yang primitif. kok bisa dibilang primitif??apa dia belum gaul...hehehe, penggunaan kata primitif disini dikarenakan ciri-ciri fisik yang dimilikinya yaitu lapisan Tapetum pada mata sehingga membantunya untuk melihat dalam kegelapan,serta hidung yang lembab untuk meningkatkan daya penciuman. dan yang pasti mah karena pergerakan nya yang lamban tampak seperti hewan bodoh. malah temen aku ada yang bilang wah kukang nih hewan yang hati-hati sekali. jalannya aja pelan-pelan (hahahaa).

hewan ini termasuk hewan nokturnal a.k.a hewan yang beraktifitas pada malam hari. kalo kata bang rhoma sih Begadang..
jadi nih hewan klo udah menjelang malam atau bedug maghrib mulai berkumandang dia kegirangan (kayak buka puasa aja) , karena baginya itu adalah waktu untuk berburu makanan. dengan mata tapetumnya ia bisa dengan mudah berjalan-jalan di tengah kegelapan malam, so klo pengen mencarinya/ mengamatinya di tengah malam harus sedia senter dan coba sorot.. pasti kedua matanya akan memancarkan sinar oranye-merah seperti mata kucing, klo pun salah mungkin yang anda temukan adalah kawan lamanya yaitu careuh a.k.a musang.

makanan kukang tidak jauh beda dengan primata lainnya. dia suka buah-buahan, kulit kayu, serangga/ hewan kecil lainnya, getah... yah setidaknya makanan lah (menurut dia). satu hal yang menarik dari hewan ini adalah saat dia berburu/menangkap mangsa. meskipun dia berjalan sangat lambat (kalo saya menyebutnya berjalan sangat hati-hati) namun pada saat akan menangkap mangsa ia cukup gesit, tentunya pada saat mendekati sasaran dia mengintai secara perlahan tapi pasti untuk dekat mengenai sasaran.

lalu apa istimewanya.
berdasarkan IUCN red data list, nih hewan termasuk dalam kategori data decifient. belum banyak data mengenai keberadaan, penyabaran dan jumlah nih hewan. malah dalam CITES, hewan ini mengalami peningkatan status dari appendiks II menjadi Appendiks I setelah pengajuan proposal dari negara Kamboja, jadi secara perdagangan nih hewan udah nggak bisa lagi dijual. karena konon katanya mulai terancam punah karena dampak perdagangan atau mungkin terkena dampak perdagangan. berdasarkan investigasi yang telah dilakukan profauna terhadap perdagangan hewan ini dalam kurun waktu 2002-2006 ada sekitar 894 ekor yang diperjualbelikan, dan itu baru yang secara buka-bukaan, apalagi klo ditambah ama yang tutup-tutupan bisa berapa ribu ekor. klo nih hewan yang di jualbelikan berasal dari penangkaran.. yaa katanya sih nggak apa-apa (sama kayak ikan arwana donks), namun nyatanya belum ada tuh penangkaran khusus buat nih hewan yang tujuannya untuk komersil. so pastinya para tukang dagang ini pastinya ngambil nih hewan langsung dari habitatnya alias tempat tinggal kukang (bisa dibilang penculikan). kelakuan para pedagang juga udah makin aneh-aneh aja, untuk menghindari ato mengelabui para polisi, terkadang nih sio Kukang suka di cat ampe item legam, trus dibilangnya kuskus, kucing kalimantan lah, panda irian (klo mau dagangan laku emang harus pake spesial nickname) huaah ada ada aja.

lalu dimana nih habitat alaminya?
kukang hidup di hutan alami, hutan sekunder, hutan tropis dan yang lebih istimewa lagi nih hewan ada juga yang hidup di hutan masyarakat atau biasa dibilang kebon tatangkalan (talun). pengrusakan vegetasi dapat juga memicu berkurang atau hilangnya populasi nih hewan. deforestasi, konversi, dan lain sebagainya menimbulkan penyempitan luas areal yang dibutuhkan. semakin sempit tempat tinggalnya, semakin tinggi tingkat persaingan. nah si Kukang yang hidup di kebontatangkalan justru sangat menarik. selain dia sangat dekat dengan interaksi masyarakat, tentunya si kebon yang merupakan habitat binaan manusia akan selalu mengalami gangguan yang sifatnya beragam, bisa jangka panjang, bisa jangka pendek, bisa sering, bisa jarang. si kukang yang hidup disini bisa saja bertahan asalkan 3 faktor utamanya tetep bisa dipertahankan. yaitu
1. makanan
2. perlindungan
3. reproduksi.
itu semua tergantung kearifan lokal masyarakat sekitar dalam mengelola kebon tadi, jika tidak terjadi konversi lahan misalnya jadi sawah atau regenerasi tumbuhan yang kontinuitas (penggantian tumbuhan yang ditebang) tentunya akan memenuhi faktor faktor yang dibutuhkan oleh si kukang Tersebut.

itu untuk masyarakat desa yang dekat dengan habitatnya, lalu bagaimana dengan kita "orang kota". apa yang musti kita lakukan??
tentunya kita harus say no buat yang namanya memelihara nih hewan dan juga membelinya dari mang-mang si penjual. meskipun niat kita membeli untuk dilepas lagi, saya sarankan sih jangan. ntar si mang-mangnya merasa atoh (bangga) karena barang dagangannya laku dan dia makin semangat buat jual nih hewan. jangan rusak habitatnya, klo bisa mengingatkan para perusak. lalu dukung upaya-upaya penyelamatan satwa..

wew.....
thats all

Share 

Add a Comment

You need to be a member of lingkarhijau to add comments!

Join this social network

Jarot Arisona Comment by Jarot Arisona on June 24, 2009 at 4:42pm
Halo Agung salam kenal...saya jarot dari Bio UI, salah satu dari segelintir peneliti kukang di Indonesia. Saya ingin mengucapkan salut dan mendukung upaya Agung dalam menyebar luaskan pengetahuan ttg javan slow loris dan upaya konservasinya. Salam, Jarot Arisona
Wawan Tarniwan Comment by Wawan Tarniwan on June 1, 2009 at 9:25pm
kren gung..........

About

ery bukhorie ery bukhorie created this social network on Ning.

© 2009   Created by ery bukhorie on Ning.   Create Your Own Social Network

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service