lingkarhijau

earthday, environment, voluntary, community, nature, culture, local movement

KITA patut berbangga karena Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia memiliki garis pantai 81.000 kilometer yang merupakan terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Laut terbentang seluas 5,8 kilometer persegi atau hampir tiga perempat dari seluruh wilayah tanah air.

Ribuan pulau berarak dan tersebar bagai mutiara mutu manikam di antara hamparan buih lautan di sekitar khatulistiwa. Di antara pulau-pulau tersebut ada sebagian saudara-saudara sebangsa yang hidup terpencil, jauh dari modernitas. Ada pula sudara-saudara kita yang demi dedikasi dan tugas negara rela menjaga keberadaan pulau-pulau tersebut dan harus terpisah jauh dari keluarga.

Banyak pulau-pulau kecil nun jauh di sana yang menjadi garis terdepan Nusantara, namun jauh dari perhatian kita. Padahal, pulau-pulau terluar memiliki peran strategis sebagai batas kedaulatan negara dan sudah mejadi kewajiban seluruh bangsa untuk ikut peduli terhadap eksistensi pulau-pulau tersebut sebagai bagian Republik Indonesia.

Adakah kita pernah menginjakkan kaki di sana? Terbersitkah di pikiran kita bahwa pulau-pulau tersebut adalah bagian dari bumi pertiwi tercinta?

Pentingnya peran pulau-pulau terluar tersebut mendasari dilaksanakannya Ekspedisi Garis Depan Nusantara. Ekspedisi ini bertujuan membuka ruang informasi serta keterbukaan akan keberadaan dan potensi 92 pulau terdepan/terluar Nusantara kepada masyarakat. Selain itu, hasil-hasil ekspedisi diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat atas kekayaan alam Nusantara sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan yang tidak kalah penting adalah membangun kembali kesadaran budaya maritim yang selama ini terlalaikan.

Sesuai tujuan tersebut, ekspedisi akan mencatat kondisi alam di pulau-pulau terluar dan budaya masyarakat di sekitarnya. Khusus budaya maritim, ekspedisi akan mengungkap lebih rinci setidaknya 83 jenis perahu tradisional asli Indonesia, antara lain 23 jenis dari Madura, 16 jenis dari Bugis-Makasar, 6 jenis dari Sumatera Selatan, 4 jenis dari pantai utara Jawa, dan perahu-perahu yang tersebar di seluruh pelosok tanah air.

Selain itu, untuk membentuk persepsi nasional maupun internasional tentang keberadaan pulau-pulau tersebut, akan didirikan monumen bapak bangsa, Soekarno-Hatta di setiap pulau terluar. Patung Soekarno berwarna merah dan Hatta berwarna putih tidak hanya ekspresi seni semata, namun juga akan menciptakan citra garis terdepan Nusantara.

Semua data-data yang dikumpulkan akan didokumentasikan dalam bentuk buku, film, foto dan web. Setidaknya enam buku yang direncanakan terbit, yakni Garis Depan Nusantara, Garis Depan Nusantara: Buku 1 Pula-pulau Terdepan Indonesia Barat, Garis Depan Nusantara: Buku 2 Pulau-pulau Terdepan Indonesia Tengah, Garis Depan Nusantara: Buku 3 Pulau-pulau Terdepan Indonesia Timur, Perahu Tradisi Nusantara, dan Monumen 92 Pulau Nusantara.

Ekspedisi dibagi dalam tiga tahap, masing-masing untuk pulau terluar di Indonesia barat, Indonesia tengah, dan Indonesia timur. Pelaksanannya dibagi dalam tiga tim, masing-masing tim pulau/kapal, tim Kodal (komanda pengendali) I, dan Kodal II. Tim pulau akan bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya menggunakan Kapal Motor Deklarasi Djuanda. Tim Kodal I dan II akan bergerak melalui perjalanan darat, melakukan survei awal budaya masyarakat, melakukan kerja sama dengan seluruh pihak yang terlihat dalam ekspedisi, termasuk mengatur rencana aksi.

Ekspedisi Garis Depan Nusantara merupakan insiatif oganisasi pecinta lingkungan Wanadri dan komunitas budaya Rumah Nusantara. Kegiatan ini didukung Departemen Kelautan dan Perikanan, Departemen Perhubungan, TNI AL, Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional), Medco Energi, Kompas, TransTV, dan Trans-7.
Lihat Perkembangan Tim Ekspedisi di :
garisdepannusantara.org

Share

Attachments:

Reply to This

Replies to This Discussion

mungkin seharusnya ada satu sesi perjalanan laut naek perahu, yang jadi bagian dari pelajaran wajib di SMA... sebab menurut saya mah, angka-angka itu mati. tidak ada maknanya, kecuali kita lihat dengan mata kepala sendiri. yang kayak gimana sih 23 jenis perahu tradisional di Madura teh? kayak gimana gitu sabang? bedanya apa sama bandung? kalo merauke? apakah sama dengan padalarang?

setelah ekspedisi itu, semua data kemudian dikompilasi jadi ensiklopedia yang dibaca sama anak-anak kita. lalu kita berharap mereka sadar bahwa indonesia itu luas dan indah. bahwa indonesia itu terdiri dari beragam suku, bahasa, jenis hewan dan tumbuhannya banyak dan bagus-bagus... impian yang terlalu sempurna:(

teman saya cerita, berdiri di tepi pantai di Alor sana, lalu menyanyikan lagu Rayuan Pulau Kelapa. merasakan dadanya sesak, suaranya bergetar dan tanpa sadar air matanya mengalir... nasionalisme tidak dibangun lewat membaca buku, atau menonton tivi dan mendengar berita. atau sekedar bereaksi responsif, marah ketika angklung diklaim sama malaysia.

saat sipadan dan ligitan diklaim, apakah kita tau apa yang terjadi di sipadan dan ligitan? berhak kah kita untuk marah, ketika uang yang dipakai di pulau terluar, seperti sipadan dan ligitan, bahkan untuk beli rokok pun pake ringgit dan bukan rupiah?

kemana aja kita?
teman, ayo beranjak. "indonesia bukan cuma jakarta" - kata iwan fals

"tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata" - sajak sebatang lisong (W.S Rendra)

semoga ekspedisi garis depan nusantara mendorong kita untuk menghayati indonesia. apa makna kita berbangsa:)

Reply to This

RSS

About

ery bukhorie ery bukhorie created this social network on Ning.

© 2009   Created by ery bukhorie on Ning.   Create Your Own Social Network

Badges  |  Report an Issue  |  Privacy  |  Terms of Service