kalo liat postingan di sebelah (positive thing to do # 86), kayaknya drive untuk melestarikan lingkungan (kalo disitu bentuk gerakannya nanem pohon) itu kok datengnya dari hati ya..
soalnya katanya 70% supply oksigen itu datengnya dari laut. jadi ditambah lagi lahan hijau di darat untuk ngehasilin oksigen juga ngaruhnya dikit... itu kalo ngikutin otak.
jadi, banyak yang bilang, gerakan pelestarian itu sering tidak masuk akal:)
..dari hati dan dicerna otak, harusnya seperti itu. Orang2 'itu' mungkin lupa akan kombinasi itu, sampai akhirnya terseret oleh arus euforia trend lingkungan (konteks di sini, tanam dan tinggalkan, mudah2an tdk seperti itu). Iya harusnya otak lbh banyak bermain dlm aksi2 lingkungan, tapi kadang buat orang2 awam, susah dapat pemicunya. Seperti informasi ttg 70% supply oksigen itu datengnya dari laut, saya yakin msh sedikit orang yang tahu akan itu ...jadi ayo menulis
informasi itu (70% oksigen dihasilkan dari laut) saya dapet dari tayangan i-max di metro tv beberapa hari yang lalu tentang laut... (bagus banget, naratornya merryl streep, ilustrasi lagunya pake lagu-lagunya sting:) endang pisan.. sampe pengen nangis dan pengen berenang liatnya juga....)
hmm...iya kang, bener juga, misalnya tayangan itu, menggabungkan antara otak dan hati, untuk mendapatkan keberpihakan orang terhadap laut:)
gerakan melestarikan lingkungan sejatinya merupakan gerakan kesadaran(berangkat dari kesadaran)....
lantas kemudian apa 'dulu'....? dari hati 'dulu'kah....? atau otak 'dulu'kah....? yang perlu di'dulu' kan?
dari banyak kasus(misal bencana dll) dan pengalaman penyadaran & edukasi(misal yang dilakukan YPBB) untuk menggugah kesadaran kemudian merubah pola pikir hingga ujung-ujungnya berubah kelakuan, ternyata lebih bisa diterima dan kemudian ditiru & dilakukan bila yang pertama kali disentuh itu perasaan, hati dan aspek-aspek yang sifatnya emosional dan atau afeksi,
bukan oleh aspek-aspek yang sifatnya rasio, data-data dan berbagai hal terkait otak dan atau kognisi (bukan berarti aspek ini tidak perlu disentuh).
misalnya....
orang bandung baru tersadar dengan persoalan sampah setelah sampah itu menjadi masalah yang dirasakan langsung oleh dirinya dan menggangu kenyamanannya, mengundang penyakit dll, ditambah lagi setelah memakan korban jiwa.
selama akibat buruk sampah tidak langsung mengancam, dialami dan dirasakan oleh kebanyakan dari kita orang bandung nampaknya kita tidak akan tergerak untuk sadar, peduli dan berubah perilaku.
meskipun data dan analisis yang shahih dari berbagai pakar dan lembaga menunjukan betapa parahnya kondisi sampah yang diproduksi dan dibuang oleh kita (dari jamannya leuwigajah hingga hari ini).
dan saya agak curiga juga ketika lebih dari 140 orang meninggal akibat bencana longsor TPA leuwigajah itu sepertinya itu bukanlah yang menggerakan orang bandung(kebanyakan) menjadi sadar dan mulai ramai mempersoalkan sampah.
yang membuat orang bandung ramai mempersoalkan sampah itu karena sebetulnya kita orang bandung nggak punya lagi tempat membuang sampah dan terganggu dengan sampah yang menggunung di dekatnya....(semoga kecurigaan saya ini salah).
sekarang ketika sampah itu kembali bisa dibuang keluar dari bandung(meskipun kadar masalahnya tetap sama) kebanyakan kita sudah tidak lagi peduli.
ini yang kemudian banyak diistilahkan dengan tren penyakit NIMBY (Not In My BackYard), penyakit orang kaya baru di negara-negara dunia ketiga .....
contoh lainnya....
kita baru sadar dan peduli dengan pentingnya alam dan merasa alam perlu diselamatkan ketika alam sudah mulai tidak ramah dan mengancam kenyamanan dan nyawa kita.
misal yang paling populer sekarang trend pemanasan global yang dampaknya mengancam keberlangsungan hidup mahluk yang namanya manusia(kita).
contoh kasus dalam skala kecil seperti kekeringan, banjir, longsor yang kemudian merenggut nyawa.
selama alam tidak memberikan sinyal ancaman (besar dan kecil) yang secara langsung maupun tidak langsung menggangu eksistensi manusia nampaknya manusia akan cuek ....
saya curiga(semoga salah) selama alam masih bisa diperah dan menghasilkan sesuatu untuk kita makan, kita pakai dan kita pandang, meskipun kondisinya sudah semakin rapuh nampaknya kita akan tetap cuek, meskupun konon di kutub utara sana dan di atap-atap pegunungan lapisan es sudah mencair.
dan saya curiga(semoga ini salah juga) masyarakat dunia kebanyak mulai memperhatikan soal pemanasan global ini ketika sudah terjadi bencana yang dirasakan langsung, selama pemanasan global ini tidak menjadi bencana yang menggangu kenyamanan dan ketersediaan kebutuhan hidup manusia, nampaknya kebanyakan dari penduduk bumi ini tidak akan peduli....
atau selama bencana(misal kepunahan) itu hanya pada mahluk lain selain manusia, nampaknya kita kebanyakan akan tetap cuek...
jadi....
memang gerakan lingkungan itu tidak musti selalu menjadi gerakan yang masuk akal(meskipun sejatinya dia harus masuk akal, supaya landasannya kuat) yang pasti dia bisa diterima oleh hati & rasa, karena itulah yang kemudian mampu banyak menggerakan kita untuk berubah.....
termasuk dengan menanam pohon, meskipun sesungguhyna oksigen terbanyak itu dihasilkan oleh alga-alga di lautan sana.
Satuju psn dengan commentnya ang Dedi, nu kaalman ku sayah di sababaraha kelompok masyarakat nu aya di kaki Gunung Papandayan, maranehna leuwih gancang kahudang alam sadarna boh mengenai kebencanaan, boh soal pertanian ramah lingkungan bahkan dongengna ayeuna mah mulai kanu kedaulatan pangan. Lamun diwawaas boh ku caritaan boh ku gambar boh ku felem (pokona mah media buat ngawawaas banyak pisan dech !) ngurunyudna atw kata orang pintermah efek domino meureun nya ? lbh gancang. Tapi emang benul sich harus dikombinasikan dengan uteuk, jiga ayeuna uing kudu muter uteuk rada muihhhhhh sabab mingkin banyak basis massa nu kawawaas perlu nguteuk bwt mikiran strategi salanjutnyah da geuning beuki loba nu wararaas teh caritana jadi beuki panjang jiga sinetron TERSANJUNG.
tergantung sejak kapan kita melihat kondisi sekarang. kalo dibandingkan dengan dulu, misalnya, kata bapak saya, bandung masih berkabut. sekarang, saat bandung tidak berkabut, toh, orang jakarta makin rame juga ke bandung... apakah itu tidak nyaman? ngga juga. menurut saya bandung saja, representasi kecil dari bumi, masih cukup nyaman untuk ditinggali...
manusia sekarang itu kan seperti katak idup yang dipanasin di panci. pelan-pelan suhunya dinaikin, dia ngga loncat. sampe akhirnya jadi sop katak....:)
Akal dan perasaan.. itu yang bikin manusia jadi manusia :) ... aku setuju ma dedi... affection made greater impact than logic, meskipun logic bisa bikin kita makin yakin buat bergerak... tapi kalo hati kita dah ke sentuh, kalo kita dah sayang, scientific proofs cuma jadi base to act... gini deh, aku ga bisa naek motor ato mobil, umpamanya aku punya cewek yg tinggal d gunung, kalo aku ikutin logic maka yang pertama keluar di pikiran "edan imah na d gunung nikreuh na jauh pisan n nanjak! hoream ah, mending neangan nu lain lah" tapi kalo hati dah kena, pikiran yang keluar kayak gini "jauh sih, nanjak, sih, tapi urang hayang panggih, nikreuh ge bae lah hehe", hati bisa bikin orang ngelakuin yang luar biasa buat yang dia cinta, begitu juga buat lingkungan, klo menurut saya mah sebagian orang yang peduli lingkungan itu karena hati mereka dah ke sentuh hati na, scientific proofs bisa bikin hentakan d pikiran orang dan mungkin aja bisa jadi trigger buat lbh peduli lingkungan, tapi hati yang bisa bikin orang berbuat apapun kapanpun, sampai kapanpun, kata logic "no way" kata hati "there's no boundaries" haha
Soal gerakan pelestarian lingkungan sering ga masuk akal? selama itu bisa bikin lingkungan jd lbh baik meskipun dalam skala mikroooooo sekalipun kenapa ga kita lakukan, da kalo dah cinta mah yang ga logis sekalipun akan tetep kita lakukan selama itu bisa bikin yang kita cinta seneng (Bumi kita makin seneng hehe)
kmaren2 sayah nonton pelm earth... bagus... kita ga d takut-takutin sama ice melting, climate change, dsb dsb... kita cuma d kasi liat bahwa Bumi itu cantik, apa yang terjadi d satu bagian Bumi sangat besar pengaruhnya ke seluruh Bumi, dan kita sangat beruntung bisa nempatin planet yang kebetulan berada di jarak yang tepat dari matahari ini... bikin kita makin sayang haha... ga tau yang laen, tapi buat sayah mah ini teh rada nyeredet kana hate heuheu
gerakan pelestarian lingkungan sering ga masuk akal? gerakan pelestarian lingkungan mana yang ga masuk akal? klo qt mau mengkaji, hal yang katanya ga masuk akal pun ada gunanya koq..hal sekecil apa pun juga pasti ada gunanya koq..
knp qt ga melakukan sesuatu yang kecil untuk sesuatu yang lebih besar..contohnya, klo qta punya kesadaran untuk nggak buang sampah sembarangan..apalagi kalo ditambah kesadaran untuk mengolah sampah..bayangkan gimana jadinya klo semua orang punya kesaradan seperti itu..ga akan ada masalah sampah di bandung & dimana-mana..& insyaAllah bumi qta jg jd tambah cantik..
less is more..
Permalink Reply by MEGA on August 7, 2008 at 11:02pm
Emberrrrrr ! kdg2 kt terlalu ngawang2 jd bnyk ngebayangin hal2 yang abstrak. Padahal klw mau " bekerja " ternyata banyak hal yg sederhana yang bs menimbulkan hal yang ruarrrrr biasa. Sy pny cerita, ibu sy di rmh klw masak msh suka pk kayu bakar. Kayunya ngambil dari kebun yg ditanami dg sistem tanaman bertingkat, arang bekas suluh direndem dipake anglo. Eh pas areng habis, kayu siap dipanen lagi. Ternyt ibu sy yg org kampung bau lisung sdh praktek konservasi dg sistem rotasi hasil panenan di kebonnya. Coba mun pola2 nu jiga teu sapira kitu teh bs dipraktekeun ku banyak orang di pilemburan meureun moal rieurrr teuing mikiran harga minyak dunia nu geus katumpakan ku jurig jarian! Nya nu penting mah kumaha carana ngaktualisasikeun gagasan sabab ngarumuskeun gagasan, ngawacanakan konsep, eta mmg hese tp nu leuwih hese deui ngakongkretkeun hal2 eta jd materi !